Selasa, 31 Mei 2016

Gimana kabar, kamu ?


Gimana kabar, kamu ?
Kamu yang entah sekarang sedang berada di koordinat berapa, di belahan bumi sebelah mana, sedang dalam aktivitas apa dan melewati kehidupan bersama siapa?
Gimana kabar, kamu?
Kamu yang selalu tumaninah dalam setiap gerakan sholat hingga setiap ayat suci Allah terpanjatkan dengan ritme yang indah serta teralun pelan.
Gimana kabar kamu?
Kamu yang membuatku sangat bersyukur setiap kali alam semesta dengan nakalnya bersekongkol membuat kita bertemu.
Gimana kabar kamu?
Kamu yang sederhana dan membuat aku merasa surga Allah begitu dekat jika bersamamu. Itu saja.
Selanjutnya, untuk kalian yang juga, entah sekarang sedang berada di koordinat berapa. Di sisi bumi bagian mana. Di catatan sejarah halaman berapa.
 Apa kalian masih ingat bahwa kita pernah berada dalam perahu yang sama, bercengkrama sambil mengimbangi energi kinetik pada aliran sungai yang seringkali menuntut kita untuk menyamakan momentum pergerakan?
Apa kalian masih ingat bahwa kita pernah berada dalam perut bumi, berjalanan dengan kecepatan konstan dalam intensitas cahaya yang minim?
Apa kalian masih ingat bahwa kita pernah bersandar di tembok yang sama, bernafas pelan, saat energi semakin menipis akibat besarnya gaya yang bekerja pada percepatan yang berubah-ubah di tubuh kita?
Apa kalian masih ingat, sudah berapa pangkat berapa ditambah berapa pangkat berapa langkah yang kita lakukan pada waktu yang sama untuk melewati area-area dengan berbagai sudut kemiringan, variasi suhu, fluktuasi tekanan, serta perbedaan kecepatan aliran angin yang kerap kali hampir membuat kata “menyerah” hadir, namun seolah pelangi yang hanya singgah sesaat, kata “menyerah” itu berhasil dienyahkan.
Dan yang terpenting, apa kalian masih ingat bahwa, di salah satu tanah datar yang dimiliki Pulau Jawa, kita pernah membuat kesepakatan untuk selalu meng-kohesi-kan hati kita dan untuk selalu menjadi planet-planet yang selalu berputar di galaksi yang sama?
Planet-planet itu memiliki komposisi yang berbeda, berotasi dengan waktu berbeda, berevolusi dalam kecepatan yang tidak sama, namun akan selalu berada dalam satu galaksi. Ia tak pernah mau keluar dari orbitnya. Saling memiliki meski tak saling bergandeng tangan.
Semoga kita slalu seperti itu, seperti prasasti yang di dalamnya terdapat catatan kisahnya yang sekarang sangat berharga.
Seperti sejarah yang terlukis dengan indah, tak dapat kembali namun kan slalu terkenang di hati kita.
Sepahit apapun masalalu itu, namun sekarang menjadi nostalgia yang menyenangkan.
Seperti sederhananya keinginan Kartini tuk pendidikan anak cucunya, namun luar biasa bagi dunia.
Seperti indahnya sumpah Gajah Mada yang menggetarkan semesta.
Apa itu terlalu berlebihan?
Kurasa tidak jika dibandingkan dengan indahnya semesta dengan hamparan langit birunya serta ada kamu dan kalian di sana.
Semoga Allah slalu membawa kita dalam jalan yang diridlohi-Nya.
Semoga kalian juga menyemogakan apa yang kusemogakan.
Semoga Allah slalu memudahkan jalan kita dimanapun berada, semoga J
Always be my brada and my sista, lup yu ;)

Seindah Glagah Indah, perjalanan panjang penyetrika "Gili"

Pantai Glagah, 25 Agustus 2015
Ini kisah lama yang telahterlalui, berniat berkunjung ke rumah sahabat di Purworejo. berangkat dengan 4 personel yang kesemuanya adalah gadi haha. Dua motor dengan 4 rodanya terus berputar menopang gadis-gadis somlak yang dalam perjalanan gapernah bisa diem, foto-foto, nyanyi-nyanyi, sampe rekaman video pun tak terlewatkan. bahagia kami sesederhana itu ya rupanya hehe.
berangkat dari Sekaran siang hari *lupa tepatnya jam berapa, kayake sih setelah asharan dulu* yang pasti maghrib kami menginjakkan kaki di Magelang. Lepas Isya' kami baru sampai rumah chabi yang berada di jantung kota yang katanya alun-alunnya paling luas se Jawa tengah ini. pagi harinya kami sambangi sang alun-alun dan hiruk pikuknya. tak lupa disempatkan mampir ke masjid yang punya Bedug terbesar *versi sana he*. Yang kutahu, kota yang telah melahirkan WR Supratman ini juga telah melahirkan kawan-kawanku, chabi yang lucu, juga gadis yang slalu dibilang kembar sama aku, Umi laila.
setelah puas muter alun-alun, kami bergegas pulang untuk mandi dan cuuss Glagah. Pantai ini dapat dicapai kurang lebih 30 menit dari pusat Purworejo. Tapi hati-hati, karena sesaat setelah melewati perbatasan Yogya, kami dihadang langsung oleh bapak-bapak polisi yang waww.. begitu motor yang kunaiki dihentikan, kunci motor diambil, lagi-lagi bakat plengehku keluar haha. Tapi alhamdulillah selamet, STNK dan SIM bisa ditunjukkan. lanjut terus ke Glagah. yang istimewa dari pantai ini adalah pemecah ombaknya, jadi tiap ombak ganas dari pantai selatan ini menuju pesisir, dia akan menabrak pemecah ombak, dan boomm air memciprat kemana-mana.